careyoues.icu Sudah cukup lama saya tidak menulis, tetapi melihat fenomena yang akhir-akhir ini terjadi, membuat saya bertanya "kenapa sih masyarakat Indonesia sangat mudah terpengaruh oleh informasi dari media sosial tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu?" dalam perspektif ilmu komunikasi, masyarakat jenis ini sering disebut sebagai konsumen media pasif dan rentan. Maka, tidak heran jika sebuah isu atau permasalahan yang tersebar di media sosial sangat mudah tenggelam dalam hitungan satu sampai dua hari, disinilah letak kekeliruan yang mungkin sering kali tidak kita sadari, di era perkembangan media baru yang semakin cepat dan akses informasi yang begitu mudah, manusia mulai kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan rasional dalam menyikapi serta menerima informasi dari dunia maya.

Bayangkan saja dua minggu terakhir, berapa kasus viral yang anda ingat? mulai dari kasus korupsi, lalu kemudian malah hilang fokus dan beralih ke isu lain yaitu tentang si pengacara itu, dan yah per hari ini udah hilang aja tuh semuanya. Sebenarnya kasus apa sih yang benar-benar kita kawal? apakah kasus seorang bapak yang dituduh mencuri ayam (ternyata residivis)? atau kasus apa lagi yang kamu ingat. Cobalah sekarang buka media sosial dan sekarang kamu pasti sedang menggenggam handphone, lihat kasus apa lagi yang viral hari ini. Seberapa cepat media mereduksi otak manusia dalam menangkap, mengonsumsi serta menyaring informasi itu dan menjadikannya bahan cerita lagi saat berjumpa teman? Sebenarnya kemajuan ini baik adanya, namun kita sulit untuk mencari latar belakang dari setiap masalah yang dipersoalkan. Bayang di instagram ada berita misalnya "seorang ayah dikeroyok hingga meninggal dunia akibat dituduh mencuri ayam" lalu dengan cepat media mainstream memberitakan hal tersebut, beberapa saat kemudian muncullah pengadil media sosial yaitu "netizen" lalu menghakimi pengeroyok dengan membabi buta, alasannya: melihat anaknya menangis dll. Dalam kasus ini saya tidak membenarkan apa yang dilakukan pengeroyok, tetapi jika anda menjadi pengeroyok yang merasa dirinya dirugikan, apakah anda masih rasional? belum tentu. Sebagai pegiat media sosial yang notabene mendapatkan informasi dari media sosial seharusnya melakukan peyelidikan mandiri tentang apa yang di viralkan (supaya keputusan untuk membela dan menghujan bisa secara rasional dipertahankan). Mengenai kasus tadi, satu hari kemudian, muncullah keterangan dari pihak berwajib bahwa korban pengeroyokan adalah residivis yang keluar masuk penjara, disitulah titik balik netizen yang tadi membela menjadi menghakimi.

Melihat permasalahan tersebut, kita mestinya memiliki pemahaman dasar tentang bagaimana sebaiknya mengonsumsi berita dan menyikapinya, sehingga nantinya jari yang menari bisa mengetik dengan bijak dan tidak mengambang. Mari kita lihat akan menjadi apakah generasi Indonesia jika tidak mampu mengendalikan dirinya dalam menyikapi perkembangan serta pemberitaan di media sosial.