careyoues.icu - Demokrasi di Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang, di mana kekuatan sekaligus kelemahan demokrasi tersebut sering kali datang dari masyarakat itu sendiri. Namun, di balik itu, ada aktor penting yang mengatur langkah berjalannya demokrasi tersebut. Melalui tulisan ini, kita akan membahas bagaimana premanisme sering muncul sebagai respons ketika proses pertukaran gagasan tidak lagi menjadi instrumen utama dalam kompetisi politik atau organisasi. Dalam praktiknya yang terstruktur, premanisme sengaja diciptakan untuk memproduksi rasa tidak nyaman dan ketakutan di dalam ruang intelektual. Itulah mengapa fenomena ini perlu diinterpretasikan secara tajam dan mendalam agar benar-benar menjadi bahan refleksi bersama.
Dalam beberapa minggu terakhir, saya menjadi salah satu aktor yang terlibat langsung dalam dinamika demokrasi tersebut di lingkungan kampus. Sebagai seorang intelektual, saya bersama rekan-rekan seperjuangan memiliki tekad kuat untuk menuangkan ide dan gagasan guna memperbaiki apa yang kami anggap perlahan mengalami ketertinggalan. Dalam perjalanannya, kami mengalami konflik batin sekaligus konflik fisik. Kami bertahan atas dasar keyakinan bahwa kami sedang bertarung di sebuah arena (field) yang sehat, di mana senjata utamanya adalah modal budaya (cultural capital) berupa argumen logis dan strategi yang berada di batas wajar.
Namun, dalam realitasnya, modal intelektual saja ternyata tidak cukup. Ketika perdebatan mulai bergeser dari pertarungan gagasan menuju pertarungan pengaruh dan tekanan sosial, mereka melakukan kompensasi instan dengan mengonversi kekalahan itu menjadi modal fisik melalui intimidasi. Kami memang memilih bertahan hingga proses itu berakhir. Akan tetapi, sebuah kenyataan pahit harus kita hadapi bersama: ketika ruang akademik dipaksa tunduk pada hukum rimba, radikalisme berpikir yang mengandalkan ketajaman nalar akan selalu dipaksa kalah oleh radikalisme premanisme yang mengandalkan pemaksaan otot.

0 Komentar