careyoues.icu - Takhayul merupakan cerita yang dibangun dan diwariskan secara turun temurun bersifat irasional dan tidak berdasarkan logika, tanpa bukti empiris yang mengikat dan menjadi landasan yang kuat untuk dipertahankan disetiap generasi. Masyarakat kita terbiasa dengan cerita-cerita yang dibangun dan diwariskan tersebut, hingga kemudian seperti tidak ada lagi ruang untuk mempertanyakan apakah benar adanya cerita tersebut. Belum lagi muncul aliran-aliran takhayul yang dipandang masyarakat sebagai sesuatu yang wajar. Namun sayangnya, banyak hal yang terjadi dan membuktikan bahwa takhayul memang tidak ada. Ironis sekali apabila sebuah kecelekaan dihubungkan dengan hal supranatural, memanggil orang pintar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan apa yang keluar dari mulut sang orang pintar "ini pasti ada kaitannya dengan penunggu, disembunyikan (lalu kemudian dilakukannya ritual adat)", kita benar-benar tidak berpikir dan bertanya dengan sadar tentang bagaimanana kronologi yang lebih logis hingga kecelakaan tersebut terjadi.

Takhayul bisa menghambat kemajuan, bahkan jika lebih ekstrim kemajuan dianggap sebagai hal yang tabu. Dalam  kasus yang lebih kecil; semisal ada kecelakaan tenggelam yang melibatkan korban jiwa, seharusnya langkah pertama yang dilakukan adalah menyelam dan berusaha menemukan korban tersebut. Namun asumsi pertama yang muncul adalah disembunyikan oleh penunggu, atau penunggu yang marah padahal pencarian belum sepenuhnya di upayakan. Dan yang terjadi adalah ritual adat dilakukan, seiring waktu yang dibutuhkan untuk melakukan ritual tersebut, memakan waktu yang cukup lama dan membuat proses pencarian melambat. Dalam kasus ini sekilas kita perlu menyadari realitas dengan secara sadar dan menggunakan akal sehat dan rasional. 

Bagaimana takhayul dihilangkan dan apakah bisa? Bisa. Pendidikan adalah jalan keluar yang paling realistis. Disinilah Tan Malaka dalam bukunya MADILOG dengan penyebutan yang familiar adalah logika mistika, ia menyadari bahwa bangsa indonesia bukan hanya dijajah oleh penjajah tetapi dijajah oleh pola pikirnya sendiri. Hal-hal yang seharusnya diselesaikan dengan upaya yang rasional malah mengedepankan supranatural, mari berpikir kausal sebab akibat. Pada akhirnya kemajuan tidak pernah hanya datang dari luar, namun juga pengaruh dari dalam diri kita sendiri.