Tidak bisa dipungkiri hampir semua masyarakat pribumi percaya terhadap hal mistis. Kita tumbuh dalam masyarakat yang majemuk, setiap daerah memiliki kepercayaan dan pandangan tersendiri dalam memahami fenomena alam yang kemudian kita maknai dengan menggunakan logika mistika. Mulai dari pohon beringin yang besar, mata air yang dipercayai dihuni oleh roh halus, dan beberapa cerita lainnya yang kita dengar. Pemahaman seperti itu seringkali dibangun sejak kita masih kecil, cerita-cerita yang dibaluti dengan bahasa yang sehari-hari kita dengar membuat hal tersebut seakan benar-benar ada. Oleh karena cerita mistis sering kita dengar bahkan sebelum memahami bahwa segala sesuatu terjadi karena sebab-sebab materiil atau fisik, maka kita selalu memaknai setiap fenomena dengan hal mistik, sulit untuk menerima bahwa hal tersebut terjadi karena fenomena nyata dan dapat dipelajari. Hal tersebutlah yang kemudian menghambat kemajuan dalam mencoba berpikir kritis dan logis.
Saya sendiri pernah bahkan hingga sekarang masih tersisa, mempercayai hal-hal di luar logika manusia. Dulu, di kebun milik bapak berdiri pohon beringin yang kokoh dan berdaun lebat, rantingnya menjalar dari batang hingga melengkung menyentuh tanah, menciptakan efek kegelapan hingga kelembaban tiada kenal siang dan malam. Orang-orang di sekitar termasuk saya meyakini karena menurut cerita disitulah poti wolo (sebutan untuk setan besar berkaki panjang) tinggal dan selalu mengganggu pengguna jalan saat melalui jalan didekat kebun bapak tersebut. Celakanya saya tidak pernah mengalami kejadian mistis tersebut hingga saat ini saya berada jauh. Beberapa waktu kemudian, pohon tersebut di tumbangkan dan perlahan desas desus gangguan itupun hilang. Rasa takut yang saya alami disebabkan stigma buruk yang dibangun di tengah masyarakat secara turun-temurun.
Tanpa pembuktian yang jelas, maka kita perlu menyimpulkan tentang cerita di atas bahwa; Pohon beringin perlu kita lihat sebagai materil (benda nyata) yang memiliki hukum alam tersendiri, dan bukan sebagai entitas spiritual. Lalu, bagaimana jika cara berfikir seperti itu selalu melekat dalam masyarakat kita, apakah bisa menjadi masyarakat yang bebas dari penjajahan secara utuh? tentu tidak. Masyarakat kita harus menghapus kecendrungan menggantungkan nasib pada takhayul, jimat, kekuatan gaib, nasib (mistisisme) dan mulai menormaliasikan berpikir menggunakan akal sehat. Mempertanyakan semuanya dalam situasi sadar dan tak mudah percaya hal-hal diluar logika.

0 Komentar